"To know is to be hurted"
Bayangin ada seorang pasien yang berobat dan dokternya bilang ke dia, "umur kamu udah ngga bisa lama-lama lagi di dunia ini". suck men. Gue bisa bilang kayak gitu karena pengalaman yang dulu pernah gue dapet. Tapi perumpamaan pasien-umur-bentar-lagi itu bukan gue ya, ASTAGFIRULLAH YA ALLAH. Jadi dulu itu gue bisa dibilang sering sekali kepo-in orang-orang terdekat gue. Mulai dari facebooknya, twitternya, form springnya, segala jejaring sosial yang mereka punya itu udah gue telusuri, sampai kalimat pertama kali bilang "wah pertama kali bikin facebook/twitter" or younameit lah". Every single thing they said. Yah I'm really phathetic. Which is mean ini mempermudah seseorang kayak gue (hem) ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Ya ngga sih? lagi BT di share, lagi ngantuk di share (ngapain juga main fb), lagi sedih di share (padahal di PPnya dia senyum lebar). Ckckkck.
Kenapa gue kepo? Karena gue ingin tahu lebih banyak tentang mereka tanpa harus bertanya langsung. Kenapa? Karena gue secara diam-diam menaruh perhatian berlebih terhadap mereka. Karena gue adalah perempuan, di mana kalao kata Adhitya Mulya gengsi adalah kulit kedua perempuan, gengsi yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau. Awalnya sih seneng pas tau rutinitas si X hari ini tuh ngapain aja, apa aja yang di obrolin sama temennya yang lain, moodnya kayak apa sekarang. Dan frekuensi ngintip berita itu udah jadi jadwal sehari-hari gue. Sampai suatu hari gue tiba-tiba ngerasa sakit hati. Eh, ini ngga lagi ngomongin gue kepo-in cowo yang gue taksir ya BUKAN, ini ceritanya sahabat-sahabat gue. Jadi ada sesuatu di jejaring sosial milik mereka itu yang bikin gue "well I know something about you but it hurts me inside".
Mungkin semua orang pernah ngerasain kayak gitu dengan versi mereka masing-masing (dan gue ngga akan share apa itu versi gue). One thing for sure gue langsung men-STOP rutinitas kepo gue ke mereka. Kenapa? Karena udah cukup, gue ngga mau mencari cara untuk membuat gue feel broken. Kalau gue ingin tau tentang mereka, cukup tanyakan langsung saja. Komunikasi 2 arah lebih baik untuk menghindari kesalah pahaman. Berarti gengsi gue harus di kurangi, dan itu susaaaaah. Susah tapi sedikit-sedikit bisa. I think I'm a little bit grown up now *smile*
Dan kepada seluruh kepoers di seluruh dunia, gue menghimbau untuk jangan menjadi terlalu addict, at least you dont wanna end up like me. Ya seengganya gue berakhir dengan sadar akan kesalahan yang gue buat dan, menghentikan aksi-aksi tersebut. Layaknya perokok yang sukses berhenti merokok, gue sukses untuk tidak terlalu menjadi kepo. Alhamdu? lillaaah. Aku sudah, bagaimana dengan kamu?
Nb: tiba-tiba ingin menulis ini karena ada seorang teman yang berkata "si Y kepo banget ih najong tralala deh"
Comments